Cerpen: Kemanakah Dia?

Di sebuah Sekolah Menegah Atas Santa Cicilia,adamah karena terlalu sibuk dengan urusan bisnis.Hal ini membuat Evita kurang kasih sayang seorang gadis lugu bernama Evita Arlita Bella.Ia adalah putri tunggal salah seorang pengusaha sukses yang terkaya dan terpandang di Negara ini.Orang tuanya sangat jarang berada di rudan perhatian dari kedua orang tuanya.Tak heran jika ia tumbuh menjadi gadis yang pendiam,pemalu dan juga sangat tertutup,berbeda dengan kabanyakan teman sekolahnya atau remaja seusianya.Di kalangan teman-teman kelas,sekolah maupun para guru,Evita dikenal sebagai gadis yang mempunyai kebiasaan unik yaitu ia selalu membawa tas merah kecil kemana pun ia pergi,ke kantin ia membawanya,pada saat belajar ia selalu memegang erat tas kecil tersebut bahkan pada saat jam olahraga ia tak pernah lupa untuk membawa tas merah kecil kesayangannya itu.
Siang hari saat pulang sekolah,teman-teman Evita dibuat keheranan.Untuk pertama kalinya,mereka menemukan tas merah kecil milik Evita berada di atas mejanya,tetapi mereka tidak melihat Evita membawanya atau berada di kursinya.Lalu timbullah rasa penasaran pada seluruh teman sekelas Evita,
Eh..Evita kemana kok tumben tasnya ditinggal di sini?” Tanya Irsal,ketua kelas Evita kepada Catherin,teman sebangku Evita.
“Aku juga ga’ tahu tadi sih aku lihat dia masih bawa tasnya ini ke kantin bareng aku dan Liza”,jawab Catherin.
“Tapi waktu kita mo ke kelas Evita sempet nerima telepon dari seseorang,ya ga’ Cat?”Tanya Liza.
“Oh…iya aku ingat sekarang.Benar apa yang dikatakan Liza,tadi Evita dapat telepon dari seseorang terus dia pamit ke aku untuk pergi sebentar karena ada sesuatu yang akan ia lakukan tapi dia ga’ bilang tuh mau kemana?Tadi dia juga minta tolong aku untuk meminta izin Pak Steven,trus dia ke kelas kayaknya sih ngambil sesuatu gitu deh!”Jelas Catherin pada Irsal.
“Apa mungkin waktu dia mo pergi,dia lupa bawa tas kecil ini?”Tanya Irsal pada Catherin dan Liza sambil mengangkat tas merah milik Evita.
“Ah masa!Evita bukan tipe orang teledor dan pelupa apalagi sama tas merah kesayangannya ini,dia pasti ga’ bakal lupa!”Tutur Catherin.
“Lantas kenapa tas ini bisa ada di sini sedangkan Evita sejak tadi ga’ kelihatan juga,kira-kira dia kemana?”Tanya Irsal pada semua teman-teman sekelasnya.”Teman-teman apa kalian ada yang melihat Evita setelah jam istirahat kedua tadi?”Lanjut Irsal
“Ga aku ga lihat dia!”Sorak seluruh siswa kelas X.1 tersebut.
“Trus kita harus gimana?Sekarang Evita pergi tapi dia meninggalkan tas merah kesayangannya di kelas.Ini aneh banget kan? Soalnya kita semua tahu bahwa Evita sangat menyayangi tasnya ini,dia juga ga’pernah lupa membawa tas ini kemana pun dia pergi ,tapi kenapa sekarang tas ini ada di atas meja Evita tapi Evitanya ga’ ada?”Irsal meminta saran dari seluruh teman sekelasnya sebab ia telah merasa putus asa dan sangat khawatir pada Evita.
“Gini aja,sekarang kita pulang.Besok kita lihat Evita masuk kelas atau ga’,kalo sampai besok dia ga’ masuk dan ga’ ada kabar sama sekali tentang dia,baru kita lapor guru/wali kelas,gimana?”Usul Helen,seorang teman Evita.
“Ok! Aku setuju dengan usulmu Helen dan untuk sementara aku titip tas ini ke kamu ya Cat? Tapi besok jangan lupa dibawa,sapa tahu Evita datang trus nyari tas kesayangannya ini! Sekalian setelah pulang sekolah kamu telepon ke rumah Evita,sapa tahu dia sudah ada dirumah!”Peritah Irsal sambil menyerahkan tas milik Evita pada Catherin.
“Ok deh! Aku khawatir banget sama Evita nih!”Jawab Catherin.
“Kita semua juga! Tapi sekarang kita ga’ boleh panik dan khawatir berlebihan.Semoga Evita baik-baik aja dan besok kita bisa ketemu dia lagi.Sudah sekarang kita pulang saja!”Usul Andre.
“Ya…ya ayo sekarang kita pulang!”Sorak seluruh siswa.
“Tapi waktu kita mo ke kelas Evita sempet nerima telepon dari seseorang,ya ga’ Cat?”Tanya Liza.
“Oh…iya aku ingat sekarang.Benar apa yang dikatakan Liza,tadi Evita dapat telepon dari seseorang terus dia pamit ke aku untuk pergi sebentar karena ada sesuatu yang akan ia lakukan tapi dia ga’ bilang tuh mau kemana?Tadi dia juga minta tolong aku untuk meminta izin Pak Steven,trus dia ke kelas kayaknya sih ngambil sesuatu gitu deh!”Jelas Catherin pada Irsal.
“Apa mungkin waktu dia mo pergi,dia lupa bawa tas kecil ini?”Tanya Irsal pada Catherin dan Liza sambil mengangkat tas merah milik Evita.
“Ah masa!Evita bukan tipe orang teledor dan pelupa apalagi sama tas merah kesayangannya ini,dia pasti ga’ bakal lupa!”Tutur Catherin.
“Lantas kenapa tas ini bisa ada di sini sedangkan Evita sejak tadi ga’ kelihatan juga,kira-kira dia kemana?”Tanya Irsal pada semua teman-teman sekelasnya.”Teman-teman apa kalian ada yang melihat Evita setelah jam istirahat kedua tadi?”Lanjut Irsal
“Ga aku ga lihat dia!”Sorak seluruh siswa kelas X.1 tersebut.
“Trus kita harus gimana?Sekarang Evita pergi tapi dia meninggalkan tas merah kesayangannya di kelas.Ini aneh banget kan? Soalnya kita semua tahu bahwa Evita sangat menyayangi tasnya ini,dia juga ga’pernah lupa membawa tas ini kemana pun dia pergi ,tapi kenapa sekarang tas ini ada di atas meja Evita tapi Evitanya ga’ ada?”Irsal meminta saran dari seluruh teman sekelasnya sebab ia telah merasa putus asa dan sangat khawatir pada Evita.
“Gini aja,sekarang kita pulang.Besok kita lihat Evita masuk kelas atau ga’,kalo sampai besok dia ga’ masuk dan ga’ ada kabar sama sekali tentang dia,baru kita lapor guru/wali kelas,gimana?”Usul Helen,seorang teman Evita.
“Ok! Aku setuju dengan usulmu Helen dan untuk sementara aku titip tas ini ke kamu ya Cat? Tapi besok jangan lupa dibawa,sapa tahu Evita datang trus nyari tas kesayangannya ini! Sekalian setelah pulang sekolah kamu telepon ke rumah Evita,sapa tahu dia sudah ada dirumah!”Peritah Irsal sambil menyerahkan tas milik Evita pada Catherin.
“Ok deh! Aku khawatir banget sama Evita nih!”Jawab Catherin.
“Kita semua juga! Tapi sekarang kita ga’ boleh panik dan khawatir berlebihan.Semoga Evita baik-baik aja dan besok kita bisa ketemu dia lagi.Sudah sekarang kita pulang saja!”Usul Andre.
“Ya…ya ayo sekarang kita pulang!”Sorak seluruh siswa.
Dua hari kemudian, Evita belum juga datang ke sekolah.Semua teman-teman Evita semakin cemas dan khawatir pada keadaan dan keberadaannya,terutama Catherin teman sebangku Evita yang sangat merindukan Evita kembali.Apalagi ketika ia menelpon ke rumah Evita,Evita belum kunjung pulang sejak pergi ke sekolah tiga hari yang lalu. Hal ini makin membuat Catherin dan seluruh teman-teman Evita cemas.
“Sal,gimana nih,sampe hari Evita belum juga masuk sekolah,aku khawatir sesuatu terjadi padanya?”Tanya Catherin pada Irsal yang tengah menikmati hamburger kesukaannya pada jam istirahat.
“Kamu dah coba telepon ke rumahnya?Kata orang rumah Evita dia kemana?”Irsal kembali bertanya.
“Tadi dan kemarin aku dah telepon ke rumahnya tapi katanya dia belum pulang sejak pulang sekolah.Evita juga ga’ pamit mo kemana setelah pulang sekolah dan pembantunya bilang kalo sampe sekarang Evita belum juga kasih kabar.Aku jadi makin khawatir sama dia.Ayo Sal apa yang harus kita lakukan?”Tanya Catherin
“Coba kita tanya guru piket sapa tahu ada surat sakit atau izin dari Evita” Ajak Irsal.
“Kamu dah coba telepon ke rumahnya?Kata orang rumah Evita dia kemana?”Irsal kembali bertanya.
“Tadi dan kemarin aku dah telepon ke rumahnya tapi katanya dia belum pulang sejak pulang sekolah.Evita juga ga’ pamit mo kemana setelah pulang sekolah dan pembantunya bilang kalo sampe sekarang Evita belum juga kasih kabar.Aku jadi makin khawatir sama dia.Ayo Sal apa yang harus kita lakukan?”Tanya Catherin
“Coba kita tanya guru piket sapa tahu ada surat sakit atau izin dari Evita” Ajak Irsal.
Irsal dan Catherin bergegas menuju ruang piket ia bertemu dengan seorang guru piket yang tengah bertugas hari itu.
“Selamat siang Pak Christian!Apa ada surat dari keluarga Evita murid kelas X.1.”Tanya Irsal pada Pak Christian,guru piket.
“ Tidak ada,Nak!Memangnya sejak kapan dia tidak masuk?”Tanya Pak Christian.
“Sudah sejak tiga hari yang lalu,tepatnya pada jam terakhir hari Senin.Dan ketika ia pergi ia hanya meninggalkan tas merah kesayangannya ini,padahal biasanya ia selalu membawanya kemanapun ia pergi.”Jawab Catherin.
“Kami sudah mencoba mencari baik di sekitar sekolah maupun menelpon ke rumahnya.Tapi ia tidak kami temukan keberadaannya sampai hari ini.Makanya kami menemui bapak kalau-kalau Evita mengirimkan surat sakit ataupun surat izin ke sekolah.”Jelas Irsal.
“Kalian sudah pernah mencoba membuka tas itu?Siapa tahu ada petunjuk tentang keberadaan Evita sekarang.”Pak Christian kembali bertanya.
“Tidak,Pak!Sebab kami tahu betul bahwa Evita sangat menyayangi tas ini,ia akan sangat marah apabila kami membuka atau sekedar memegangnya.”Jawab Catherin dan Irsal.
“Berhubung kita tidak mendapatkan kabar apapun lebih baik sekarang kita menghubungi BP,kita serahkan masalah ini agar BP yang mencarikan jalan keluarnya.Mari ikuti saya!”Usul Pak Christian.
Irsal dan Catherin ditemani Pak Christian menuju ruang BP.Pak Christian menjelaskan masalah mengenai Evita.“ Tidak ada,Nak!Memangnya sejak kapan dia tidak masuk?”Tanya Pak Christian.
“Sudah sejak tiga hari yang lalu,tepatnya pada jam terakhir hari Senin.Dan ketika ia pergi ia hanya meninggalkan tas merah kesayangannya ini,padahal biasanya ia selalu membawanya kemanapun ia pergi.”Jawab Catherin.
“Kami sudah mencoba mencari baik di sekitar sekolah maupun menelpon ke rumahnya.Tapi ia tidak kami temukan keberadaannya sampai hari ini.Makanya kami menemui bapak kalau-kalau Evita mengirimkan surat sakit ataupun surat izin ke sekolah.”Jelas Irsal.
“Kalian sudah pernah mencoba membuka tas itu?Siapa tahu ada petunjuk tentang keberadaan Evita sekarang.”Pak Christian kembali bertanya.
“Tidak,Pak!Sebab kami tahu betul bahwa Evita sangat menyayangi tas ini,ia akan sangat marah apabila kami membuka atau sekedar memegangnya.”Jawab Catherin dan Irsal.
“Berhubung kita tidak mendapatkan kabar apapun lebih baik sekarang kita menghubungi BP,kita serahkan masalah ini agar BP yang mencarikan jalan keluarnya.Mari ikuti saya!”Usul Pak Christian.
“Saya akan mencoba menghubungi orang tua Evita.Silakan kalian tunggu sebentar”Jawab Ibu Deby,petugas BP SMA Santa Cicilia.
“Tapi orang tua Evita sekarang tengah berada di Jepang untuk urusan bisnis.”Jawab Catherin.
“Lalu di rumah Evita apakah ada orang lain?”Lanjut Bu Deby.
“Ya,kemarin Catherin telah menelpon ke rumah Evita.Di sana hanya ada pembantu dan supir Evita.”Jawab Irsal.
“Baiklah saya akan menghubungi pembantu Evita.”Kata Ibu Deby.
Bu Deby menelpon rumah Evita,beliau sempat berdialog cukup lama dengan pembantu rumah Evita.Beberapa saat kemudian Ibu Deby menghampiri Irsal,Catherin dan Pak Christian.
“Menurut pembantu rumah Evita,Evita tidak meninta izin untuk pergi ke suatu tempat sebelum ia meninggalkan rumah.Sampai hari ini juga ia tidak pernah memberi kabar.Pembantunya telah berusaha menghubungi seluruh teman dan sanak keluarga tetapi tidak menemukannya.Saya juga telah meminta agar Mbak Rini pembantu Evita,memberitahukan hal ini kepada orang tua Evita di Jepang.Ia berjanji akan memberikan kabar secepatnya kepada sekolah apabila ada perkembangan tentang keberadaan Evita.”Terang Bu Deby.
“Sekarang lebih baik kalian kembali ke kelas!Saya dan Bu Deby akan melaporkan hal ini kapada Bapak Kepala Sekolah.”Perintah Pak Christian.
Irsal dan Catherin bergegas menuju kelas mereka untuk mengikuti pelajaran berikutnya.Di kelas teman-teman Evita juga sangat khawatir dan panik,namun Irsal tetap berusaha menenangkan teman-tamannya agar masalah tidak semakin berlarut-larut.Sedangkan Pak Christian dan Bu Deby segera melaporkan kejadian itu kepada kepala sekolah.Setelah menceritakan perihal hilangnya Evita,Pak Alexander,Kepala Sekolah SMA Santa Cicilia menyarankan agar pihak BP beserta Wali kelas untuk membuka isi tas kesayangan Evita disaksikan oleh kepala sekolah,ketua kelas serta sahabat Evita segera.Hal ini dimaksudkan untuk mencari petunjuk atau bukti-bukti yang menerangkan keberadaan Evita.Segera Bu Deby menghubungi wali kelas X.1 yaitu Pak Steven,Irsal dan Catherin sebagai saksi untuk membuka tabir rahasia di dalam tas merah kesayangan Evita.Tak beberapa saat berselang,Pak Christian mengabarkan bahwa orang tua Evita sedang menunggu sambungan telepon kepada kepala sekolah.Kepala sekolah menerima telepon dari orang tua Evita dan mengabarkan bahwa Evita telah tiga hari tidak masuk sekolah dan tidak ada berita sama sekali,Pak Alex juga meminta izin untuk membuka tas kesayangan Evita guna mencari keterangan atau petunjuk tentang keberadaan Evita sekarang.”Pak Christian kembali bertanya.“Tapi orang tua Evita sekarang tengah berada di Jepang untuk urusan bisnis.”Jawab Catherin.
“Lalu di rumah Evita apakah ada orang lain?”Lanjut Bu Deby.
“Ya,kemarin Catherin telah menelpon ke rumah Evita.Di sana hanya ada pembantu dan supir Evita.”Jawab Irsal.
“Baiklah saya akan menghubungi pembantu Evita.”Kata Ibu Deby.
Bu Deby menelpon rumah Evita,beliau sempat berdialog cukup lama dengan pembantu rumah Evita.Beberapa saat kemudian Ibu Deby menghampiri Irsal,Catherin dan Pak Christian.
“Menurut pembantu rumah Evita,Evita tidak meninta izin untuk pergi ke suatu tempat sebelum ia meninggalkan rumah.Sampai hari ini juga ia tidak pernah memberi kabar.Pembantunya telah berusaha menghubungi seluruh teman dan sanak keluarga tetapi tidak menemukannya.Saya juga telah meminta agar Mbak Rini pembantu Evita,memberitahukan hal ini kepada orang tua Evita di Jepang.Ia berjanji akan memberikan kabar secepatnya kepada sekolah apabila ada perkembangan tentang keberadaan Evita.”Terang Bu Deby.
“Sekarang lebih baik kalian kembali ke kelas!Saya dan Bu Deby akan melaporkan hal ini kapada Bapak Kepala Sekolah.”Perintah Pak Christian.
keberadaan Evita.Ayah Evita mengijinkan dan akan berusaha untuk mencari keberadaan putri kesayangannya itu.
Setelah mendapatkan izin dari orang tua Evita,Pak Alex segera meminta Catherin membuka tas merah Evita.Catherin sempat ragu untuk membuka tas merah Evita,sebab ia tahu sahabatnya sangat tidak senang apabila ada orang lain yang membuka tas kesayangannya itu.Akhirnya dengan perasaan takut dan penuh penasaran Catherin membuka tas merah Evita.Ia membuka dan menemukan sebuah buku agenda kecil,sebuah kalung yang berliontin dua buah cincin pernikahan orang tua Evita dan sebuah foto keluarga saat Evita masih kecil.Dalam agenda Evita ada tertulis sebuah untaian perasaan sehari sebelum Evita menghilang.Catatan itu bertuliskan:
“Mama,papa aku ingin kalian ada di sini bersamaku…Besok kalian janji untuk pulang.Kalian janji untuk mengajakku berwisata ke rumah yang pernah kita tinggali saat aku kecil.Aku sangat rindu kalian dan saat-saat kebersamaan kita itu terulang kembali…Lusa adalah hari ulang tahun pernikahan papa dan mama,aku ingin bersama papa dan mama biar se..detik saja.Jika seandainya mama dan papa tahu,aku tak menginginkan semua kemewahan jika aku harus kehilangan kalian bersamaku.Ma..pa..yang aku butuhkan bukan barang mewah dan kekayaan tapi aku butuh kasih sayang papa dan mama.Besok aku akan pergi ke Bandung,rumah kita dulu.Aku tidak akan pulang sebelum kalian datang..Jadi Ma..Pa aku tunggu kalian datang dan tolong jangan katakan “Sorry honey!mama and papa are busy now.We can’t go home now,may be next week we are have free time.We promise will come for you but its not now!”Kalian tahu aku sangat benci mendengar kata-kata itu.Tapi mengapa kalian selalu mengatakan hal itu dan mementingkan pekerjaan dibanding aku,Evita putri tunggal kalian???????????Aku tak tahu!!!”
Berdasarkan catatan itu,Pak Alex segera menghubungi pembantu Evita untuk menanyakan alamat rumah Evita di Bandung.Sedangkan Pak Steven segera mengirim e-mail kepada orang tua Evita di Jepang guna memberi tahukan pesan yang Evita tuliskan pada buku agenda dalam tasnya.Pak Steven meminta agar kedua orang tua Evita segera kembali ke Indonesia dan menemui Evita di rumahnya di Bandung.Pak Alex mendapat alamat rumah itu.Beliau kemudian memerintahkan Pak Steven,Bu Deby,Irsal dan Catherin untuk menemui Evita di Bandung bersama dengan pembantu Evita diantar supir Evita.
Setelah menempuh perjalanan kira-kira satu jam dari Bogor ke Bandung,akhirnya rombongan tiba di rumah di mana Evita berada.Memang benar,mereka menemukan Evita yang tengah merenung dan menunggu kedatangan orang tuanya.Catherin berlari dan memeluk Evita sahabatnya yang sangat ia rindukan,segera setelah melihat Evita.
“Vit,akhirnya kita bisa nemui kamu!Aku kangen ma kamu.Aku tahu kamu kangen banget sama mama dan papamu tapi kamu ga boleh ngehindar dan melarikan diri gini,kita semua kan jadi khawatir ma kamu!”Kata Catherin pada Evita yang nampak terkejut melihat kedatangan Catherin,Irsal,Pak Steven,Bu Deby,Mbak Rini(pembantunya) dan Mang Jana(Supir) ke villa itu.
“Dari mana kalian tahu aku disini?Mengapa kalian yang datang,bukan orang tuaku?Padahal aku sudah menunggu mereka sejak tiga hari yang lalu.”Tanya Evita.
“Pertama-tama kami mohon maaf telah membuka tas merah kesayanganmu.Di dalamnya kami menemukan sebuah agenda dan membaca isinya.Berdasarkan catatan Evita di agenda itu kami mengetahui bahwa Evita saat ini Evita tengah berada di sini.Segera setelah mengetahui hal ini kami dari pihak sekolah segera menghubungi Mbak Rini dan Pak Doni Bella di Jepang.Pak Doni berpesan bahwa beliau beserta ibu akan datang hari ini juga jam 19.00.Mereka benar-benar meminta maaf atas kejadian ini,mereka meminta maaf telah membatalkan janji mereka kepada Evita.”Jelas Pak Steven.
“Vit,boleh ga’ aku bertanya sesuatu padamu?”Tanya Irsal pada Evita.
“Tentu!Ada apa sih?”Evita balik bertanya pada Irsal.
“Begini!Kemaren aku dan teman-teman sekelas heran banget.Kamu pergi tapi kok tas merah kesayanganmu ini tertinggal di kelas?Padahal kami semua tahu kamu tidak pernah lupa untuk membawa tas ini.”Tanya Irsal.
“Oh…itu karena aku dapet telepon dari assisten papaku waktu aku,Catherin dan Liza dari kantin mo ke kelas.Dia mengabarkan bahwa papaku sudah sampai di Singapura.Jadi aku buru-buru ke kelas ngambil kado yang spesial aku beliin buat papa dan mama sebagai ucapan terima kasih karena mereka telah menyempatkan waktu untuk pulang dan ketemu aku,sekaligus sebagai kado ultah pernikahan mereka.Karena papa dan mamaku mau pulang aku jadi excited banget sampai-sampai aku kelupaan bawa tas kesayanganku ini.Tapi begitu sampai di bandara,aku pikir papa dan mama sudah sampai tapi malah assisten papaku telepon lagi,dia bilang papa dan mama ga jadi terbang ke Jakarta.Katanya mereka ada urusan di kantor yang harus di selesaikan hari itu juga.Jadi waktu di Singapura,papa dan mama langsung beli tiket balik ke Jepang dan semua rencana kita ditunda.Tapi aku ga tahu ditunda sampai kapan.Kalian tahukan gimana perasaanku waktu itu? Aku benci papa dan mama,mereka lebih mementingkan kerjaan daripada berlibur bersamaku. Trus aku mutusin langsung ke sini sendiri.”Terang Evita
“Evita anakku!Ibu tahu kamu begitu merindukan kedua orang tuamu.Kamu merasa kamu selalu di kesampingkan dari perhatian mereka.Tapi sebenarnya mereka tidak bermaksud demikian.Pada awalnya mereka tidak menyadari kalau kamu telah menjadi seorang remaja yang cantik.Mereka tidak sadar kalau kamu juga sudah bisa menyatakan dan mengungkapkan keinginan dan menentukan pilihan.Sekarang mereka menyadari bahwa selama ini mereka memang telah meninggalkanmu terlalu jauh.Mereka berjanji tidak akan mementingkan pekerjaan diatas kebahagiaan putri tunggal yang sangat mereka cintai.Ingatlah!Tidak semua masalah bisa diselesaikan secara cepat,semua butuh proses termasuk sikap dan perhatian papa dan mama Evita.Mungkin dulu mereka berpikir kalau hanya uang dan kemewahan yang membuat Evita bahagia,tapi percaya pada ibu sekarang mereka telah berubah.Jadi lain kali Evita tidak boleh melakukan hal ini lagi.Kalau ada masalah Evita kan bisa cerita dengan ibu,ya nak!Kamu mau memaafkan orang tuamu kan?Ayolah nak!Tuhan pernah berjanji barang siapa memafkan dengan tulus ia akan dibuatkan rumah berhias permata di Surga.”Pesan Ibu Deby lembut sambil memeluk Evita.
“Evita menyesal melakukan hal ini.Tapi Evita kecewa pada papa dan mama.Mereka tidak pernah menyempatkan untuk bersama Evita,bahkan saat Evita sedang sakit sekalipun.Mereka hanya memberikan hadiah-hadiah dan bukan kasih sayang seperti yang Evita harapkan.Makanya Evita sangat marah dan kecewa.Kini Evita tahu walau mereka tidak bersama Evita mereka tetap sayang Evita!Evita mau memaafkan papa dan mama!”Tutur Evita sambil meneteskan air mata seraya memeluk Catherin dan Bu Deby.
“Tentu!Ada apa sih?”Evita balik bertanya pada Irsal.
“Begini!Kemaren aku dan teman-teman sekelas heran banget.Kamu pergi tapi kok tas merah kesayanganmu ini tertinggal di kelas?Padahal kami semua tahu kamu tidak pernah lupa untuk membawa tas ini.”Tanya Irsal.
“Oh…itu karena aku dapet telepon dari assisten papaku waktu aku,Catherin dan Liza dari kantin mo ke kelas.Dia mengabarkan bahwa papaku sudah sampai di Singapura.Jadi aku buru-buru ke kelas ngambil kado yang spesial aku beliin buat papa dan mama sebagai ucapan terima kasih karena mereka telah menyempatkan waktu untuk pulang dan ketemu aku,sekaligus sebagai kado ultah pernikahan mereka.Karena papa dan mamaku mau pulang aku jadi excited banget sampai-sampai aku kelupaan bawa tas kesayanganku ini.Tapi begitu sampai di bandara,aku pikir papa dan mama sudah sampai tapi malah assisten papaku telepon lagi,dia bilang papa dan mama ga jadi terbang ke Jakarta.Katanya mereka ada urusan di kantor yang harus di selesaikan hari itu juga.Jadi waktu di Singapura,papa dan mama langsung beli tiket balik ke Jepang dan semua rencana kita ditunda.Tapi aku ga tahu ditunda sampai kapan.Kalian tahukan gimana perasaanku waktu itu? Aku benci papa dan mama,mereka lebih mementingkan kerjaan daripada berlibur bersamaku. Trus aku mutusin langsung ke sini sendiri.”Terang Evita
“Evita anakku!Ibu tahu kamu begitu merindukan kedua orang tuamu.Kamu merasa kamu selalu di kesampingkan dari perhatian mereka.Tapi sebenarnya mereka tidak bermaksud demikian.Pada awalnya mereka tidak menyadari kalau kamu telah menjadi seorang remaja yang cantik.Mereka tidak sadar kalau kamu juga sudah bisa menyatakan dan mengungkapkan keinginan dan menentukan pilihan.Sekarang mereka menyadari bahwa selama ini mereka memang telah meninggalkanmu terlalu jauh.Mereka berjanji tidak akan mementingkan pekerjaan diatas kebahagiaan putri tunggal yang sangat mereka cintai.Ingatlah!Tidak semua masalah bisa diselesaikan secara cepat,semua butuh proses termasuk sikap dan perhatian papa dan mama Evita.Mungkin dulu mereka berpikir kalau hanya uang dan kemewahan yang membuat Evita bahagia,tapi percaya pada ibu sekarang mereka telah berubah.Jadi lain kali Evita tidak boleh melakukan hal ini lagi.Kalau ada masalah Evita kan bisa cerita dengan ibu,ya nak!Kamu mau memaafkan orang tuamu kan?Ayolah nak!Tuhan pernah berjanji barang siapa memafkan dengan tulus ia akan dibuatkan rumah berhias permata di Surga.”Pesan Ibu Deby lembut sambil memeluk Evita.
“Evita menyesal melakukan hal ini.Tapi Evita kecewa pada papa dan mama.Mereka tidak pernah menyempatkan untuk bersama Evita,bahkan saat Evita sedang sakit sekalipun.Mereka hanya memberikan hadiah-hadiah dan bukan kasih sayang seperti yang Evita harapkan.Makanya Evita sangat marah dan kecewa.Kini Evita tahu walau mereka tidak bersama Evita mereka tetap sayang Evita!Evita mau memaafkan papa dan mama!”Tutur Evita sambil meneteskan air mata seraya memeluk Catherin dan Bu Deby.
Tak disangka orang tua Evita talah datang,mereka mendengar apa yang baru saja Evita katakan.Mereka sangat menyesal telah menelantarkan Evita.Keduanya segera memeluk Evita.Ketiganya saling berpelukan dan menangis seraya merasa haru.Semua yang ada di ruang itu menjadi sangat terenyuh dan haru.
Setelah itu,Catherin,Irsal,Pak Steven dan Bu Deby memohon pamit untuk kembali ke Bogor.
“Selamat berlibur ya,Vit!Tapi jangan lama-lama temen-temen dah pada kangen ma kamu.Kita tunggu di kelas ya!”Ejek Irsal pada Evita sebelum memasuki mobil untuk kembali ke Bogor.
Akhirnya Evita dapat bertemu dan berlibur bersama kedua orang tuanya selama tiga hari.Hari Senin pagi,Evita sudah masuk sekolah.Ketika sampai di sekolah ia ternyata mendapat banyak ucapan selamat dan perhatian dari teman-teman yang begitu merindukannya.Kini Evita tahu bahwa masih ada banyak orang yang begitu menyayangi dan perhatian terhadapnya.Teman-teman tahukan bahwa orang tua kita sangat sayang kapada kita,meskipun terkadang kita sering tidak menyadarinya.Dan ingatlah juga bahwa masih banyak orang yang juga sangat peduli dan perhatian kepada kita. Jadi sayangilah orang tua,keluarga,teman dan orang-orang yang ada di sekitar kita ya!
***Sekian***
Cerpen : Kemanakah Dia?
Karya : Cesilia L.K. Bella
Tanggal : 15-18 Desember 2006


1 Komentar:
Pada 23 Januari 2009 pukul 17.16 ,
AriaSeta MahesaDjenar mengatakan...
Mbak Ces (Semoga kamu memang dipanggil dengan nama itu),
Ceritamu bagus. Mengapa tidak mencoba untuk mengirimkannya ke salah satu media. Kalo dimuat kan honornya lumayan. Bisa buat nraktir bakso teman-teman.
Terus nulis, ya?
BUt, jikalau suatu hari engkau mampir di dingklikku, give me any comment please.
Semangat!
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda