Cecilia Bella, d'next Miss Universe

visit!! this blog is to share all that i have to you

Jumat, Januari 23, 2009

ANTARA AKU, DIA DAN ORANG TUAKU

“Tika, Tika tunggu sebentar ada yang ingin aku katakan!”, Aku mendengar suara Andin memanggilku saat aku tengah berjalan menginggalkan sekolah.

Ada apa?”, Tanyaku pada Andin setelah ku hentikan langkahku.

“ Bisakah aku bercerita sesuatu hal yang sangat rahasia dan pribadi padamu?”, Tanya Andin padaku lagi.

“ Tentu.”

Aku putuskan untuk mendengarkan cerita Andin dan tidak bergegas pulang ke rumah. Dari sorot matanya yang sayu, Andin sepertinya tengah berada dalam kebimbangan. Ia tidak pernah terlihat kacau seperti hari ini. Apakah yang terjadi padanya?

Andin adalah sahabatku sejak SD, beberapa hari yang lalu dia mengikuti Olimpiade Sains Nasional. Setelah pulang dari mengikuti olimpiade, Andin pernah bercerita bahwa ia mengenal sesorang pria bernama Deny Saputra Haryunda, dia peserta olimpiade yang berasal dari provinsi Sumatera Barat. Ketika mengikuti olimpiade mereka sering bersama, tidak heran jika Andin, sahabatku, memiliki perasaan khusus padanya. Andin beberapa kali melihat Deny yang tersipu malu memandangnya. Akhirnya ia pun tergoda untuk mengartikan senyum Deny sebagai senyuman yang lain. Tetapi kebersamaan mereka harus berakhir ketika seluruh rangkaian acara pada perhelatan Olimpiade Sains Nasional berakhir. Deny harus pulang ke Padang sedangkan Andin juga harus pulang ke Jogyakarta. Rasa sedih menggelayut di hati mereka, Andin merasa sangat kecewa, ia belum tahu apa maksud senyuman Deny padanya sebelum ia berpisah dengan Deny. Untungnya mereka tetap saling berkomunikasi meskipun hanya melalui telepon, sms, maupun e-mail.

“Kemarin aku mendapatkan sms ini”, Cerita Andin dengan sedikit malu dan takut.

Aku membaca sms Deny yang disodorkan padaku, aku mulai membacanya dengan seksama sambil ku curi pandanganku pada Andin yang duduk di sampingku. “Memangnya ada apa? Bukankah kamu hanya diminta untuk menjawab iya atau tidak.” Kataku untuk menenangkan hatinya.

Aku lihat Andin semakin bingung, nafasnya terengah-engah dan tangannya yang menggengam semakin kuat menggenggam tanganku.

“ Tika, apa yang harus ku lakukan? Hal ini baru pertama kali terjadi dalam hidupku.” Jawab Andin kebingungan

“ Apa yang ada dihatimu, itulah jawabannya?”

“ Itulah yang membuatku bingung.” Jawab Andin

“ Lantas?”

“Aku ingin sekali mengatakan iya, tetapi aku takut mengecewakan kedua orang tuaku.”

Apa yang harus aku lakukan sekarang, air mata Andin mulai menetes. Aku tidak sanggup melihatnya gamang seperti ini. Aku memandangnya dan memeluknya agar dia sedikit lebih tenang. Di dalam pelukanku ia semakin dalam bersedih.

“ Tenangkanlah dulu hatimu sebelum kau memutuskan sesuatu!”

Aku biarkan Andin menagis di pelukanku selama beberapa lama hingga ia mulai merasa lebih baik. Tetapi setelah itu, ia kemudian berlari pulang tanpa menjelaskan bagaimana cara terbaik menyelesaikan masalahnya ini.

Malam harinya, Andin mengirimiku sebuah pesan singkat. Ia meminta maaf karena telah meninggalkanku tadi siang. Ia juga bercerita bahwa ia telah menerima cinta Deny dan mulai sore tadi mereka resmi berpacaran. Hatiku mulai tenang, sahabatku telah menemukan kembali kecerian yang selama ini ia miliki. Aku kemudian membalas pesannya sambil memberikan ucapan selamat. Tetapi ia kembali membuatku cemas, Andin menelponku sambil menangis. Ia mengatakan bahwa ia terpaksa menerima cinta Deny tanpa memberitahukan hal tersebut pada kedua orang tua dan kakak-kakaknya. Mereka sepakat untuk menjalin cinta secara diam-diam, ternyata Deny juga belum berani menceritakan masalahnya itu pada kedua orang tuanya.

Hari-hari berlalu, Andin dan Deny masih menjalin hubungan asmara secara diam-diam, meskipun keduanya tampak sangat bahagia. Hari itu, aku lihat Andin kembali murung, aku tanya apa sebabnya. Ia bercerita bahwa ia semakin hari semakin merasa ketakutan, ia takut menceritakan kepada kedua orang tunya bahwa ia telah berpacaran dengan Deny, tetapi ia juga takut untuk tetap menjalin hubungan secara diam-diam. Kebetulan dua hari lagi adalah ulang tahun Andin yang ke-17, aku menyarankan kepadanya untuk mengatakan semua permasalahannya di saat ia merayakan ulang tahunnya dua hari lagi. Andin setuju dengan saranku, kulihat dia mulai mengumpulkan segenggam keberanian untuk berterus terang pada orang tuanya. Sampai hari ulang tahun itu tiba,

“Kamu sudah siap mengatakannya hari ini?”

“Bantu aku ya! Tadi Deny juga telah memberiku semangat, ia mengatakan bahwa kedua orang tuanya merestui hubungan kita. Sekarang tinggal orang tuaku, jika mereka juga merestui aku akan sangat berbahagia.”

“Aku percaya kamu bisa melakukannya. Semangat!”

Kami begitu terkejut, kedua orang tua Andin menolak merestui hubungan Andin dan Deny bahkan kedua orang tua Andin meminta Andin untuk segera memutuskan hubungan asmara yang masih seumur jagung dengan Deny itu. Andin tampak sangat sedih. Aku mencoba untuk menghiburnya, tetapi ia menolak dan memohon padaku untuk meninggalkannya sendiri. Dari kejauhan, aku melihat Andin menelpon seseorang. Mingkin dia menelpon Deny. Lalu ku langkahkan kakiku meninggalkan tempat itu, ku biarkan Andin menceritakan masalahnya pada Deny, mungkin setelah ini dia akan merasa lebih baik.

Lima menit kemudian kak Shinta, kakak sulung Andin, memanggilku. Katanya Andin memintaku untuk masuk ke kamarnya. Aku masuk ke kamar Andin, dia masih memegang telepon selularnya, kemudian ia menyodorkannya padaku. Aku dimintanya berbicara dengan Deny.

“ Tika, tolong bantu kami, sekarang apakah yang harus kami lakukan untuk membuat kedua orang tua Andin menyetujui hubungan ini. Kami merasa sangat berat, jika hubungan ini harus diakhiri di sini.”

Aku dibuat larut dalam kebingungan kedua sejoli yang menjalin hubungan jarak jauh antara Jogyakarta dan Padang, Long distance, istilah yang berasal dari bahasa orang yang sering kami gunakan untuk menunjukkan eksistensinya. Ternyata Andin telah menceritakan bahwa aku juga dulu mengalami kisah asmara yang relatif serupa dengan hubungan mereka, jadi mereka benar-benar mempercayakan kepadaku untuk menemukan penyelesaian yang terbaik bagi hubungan mereka. Aduh, aku semakin bingung, apa yang harus aku lakukan sekarang. Sampai akhirnya sebuah ide yang mungkin tidak brilliant melintas di benakku, aku meminta mereka untuk tetap menjalin hubungan itu meskipun harus secara diam-diam lagi, aku berjanji akan mencoba berbicara dan menjelaskan hubungan mereka dengan kedua orang tua Andin. Aku berharap setelah aku menjelaskan ulang mereka dapat memahami dan memberikan restunya pada Andin dan Deny, sahabatku. Aku melihat raut muka yang lebih baik terpancar dari wajah Andin, aku merasa kepercayaan mereka begitu besar padaku. Oleh karena itu, aku harus bisa membuat kedua orang tua Andin mengerti. Harus, kataku dalam hati menyemangati diriku sendiri di sela sejumput asa yang mungkin terjadi, sebab aku tahu kedua orang tua Andin adalah pribadi-pribadi yang sulit untuk dicairkan apalagi ditaklukkan.

Keesokan hari setelah pulang sekolah, aku memutuskan untuk mengunjungi rumah Andin, padahal hari ini Andin ada kursus. Ketika aku sampai di depan rumahnya, ayah Andin, Om Syari, keheranan, ia tahu bahwa hari ini Andin ada kursus tetapi aku malah datang ke rumahnya. Ia menyuruhku masuk ke dalam rumah sambil menanyakan maksud kedatanganku ke rumah mereka. Aku mengatakan maksud kedatanganku yaitu untuk menjelaskan pada mereka tentang hubungan Andin dan Deny, tetapi aneh tidak seperti yang ditunjukkan kemarin, ekspresi kedua orang tua Andin tampak sumringah. Mereka memaklumi jika Andin kini telah memiliki seorang kekasih, mereka tahu anak bungsu mereka itu telah beranjak dewasa dan jatuh cinta adalah sesuatu hal yang wajar pada masa-masa itu bahkan mereka bisa menebak dengan sangat tepat semua penjelasan yang akan aku jelaskan pada mereka sebelum aku menayakannya. Kedua orang tua Andin terpaksa berpura-pura tidak merestui sebab mereka ingin menghilangkan sifat manja anak kesayangan mereka agar ketika Andin dikuliahkan di Bandung, ia dapat lebih tegar dan mandiri. Mereka memintaku untuk merahasiakan ini pada Andin, tetapi mereka tidak melarangku untuk mengatakannya pada Deny. Aku kemudian mengabarkan kabar baik itu kepada Deny. Deny begitu gembira mendengarnya, ia mengucapkan rasa terima kasihnya yang mendalam kepadaku dan kepada kedua orang tua Andin. Tiba-tiba, Andin datang dari tempat kursus. Ayah dan ibu Andin kembali berpura-pura memarahiku dan mengusirku pulang dengan sangat keras, mereka tidak mau lagi mendengarkan penjelasanku. Aku tahu ini hanya tipuan mereka, lalu aku putuskan mengikuti setting yang telah dirancang oleh ayah dan ibu Andin. Aku bergegas keluar dan berpapasan dengan Andin di gerbang. Andin menghalangiku dan menanyakan apa yang telah terjadi, aku tidak sanggup berbicara sepatah pun, aku takut ketahuan berbohong. Andin tampak cemas.Kemudian….

“Tika, apa yang kamu lakukan? Cepat selesaikan tugas menulis cerpenmu, kamu selalu saja melamun pada jam pelajaran saya. Kemudian terjemahkan cerpenmu itu ke dalam bahasa Perancis!” Perintah Kak Kasta, tentor bahasa Perancis di tempat kursusku dan Andin yang terkenal galak, sadis, killer, dan sebagainyalah yang pasti dia sangat ditakuti oleh semua siswa kursus ditempat ini.

“ Iya kak!”

Ya begitulah, kami selalu disiksa oleh kak Kasta. Bagaimana kami tidak melamum jika cara mengajarnya membuat kami ketakutan dan membosankan?^_^

Maros, 18 Agustus 2008

Cesilia Lita Kusuma Bella

1 Komentar:

  • Pada 23 Januari 2009 pukul 17.25 , Blogger AriaSeta MahesaDjenar mengatakan...

    Ces,
    Disiksa oleh kasta rasanya hanya guyonan di zaman sekarang. Tapi bagi orang yang sungguh mengalaminya, itu sama sekali tidak lucu dan sangat menyakitkan.

    Saya juga sering bentrok dengan orang tua karena kasta. JIka sampai sekarang masih belum nikah, salah satu alasannya karena masih belum tega untuk menyakiti hati orang tua.

    Penggolongan orang menurut status kelahiran memang salah satu kedunguan kronis.
    Sayangnya, kita mau tak mau ikut keselek (tersedak) karena kehidupan dan relasi memaksa kita bertahan dalam kedunguan itu.

    Btw,
    anak dari maros ko, kah?
    Masih ada ji itu penjual roti yang di pinggir jalan? Lama sekali jak, sa ndak makan di situ!!!
    Biasanya kalau mau ke TATOR atau pas mau ka jalan ke KENDARI, sa borong itu roti.

    Sekarang?
    Tinggal rindunya ji sama itu roti yang tersisa. Sedihnya deee!

     

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda