ANTARA AKU, DIA DAN ORANG TUAKU
“Tika, Tika tunggu sebentar ada yang ingin aku katakan!”, Aku mendengar suara Andin memanggilku saat aku tengah berjalan menginggalkan sekolah.
“
“ Bisakah aku bercerita sesuatu hal yang sangat rahasia dan pribadi padamu?”, Tanya Andin padaku lagi.
“ Tentu.”
Aku putuskan untuk mendengarkan cerita Andin dan tidak bergegas pulang ke rumah. Dari sorot matanya yang sayu, Andin sepertinya tengah berada dalam kebimbangan. Ia tidak pernah terlihat kacau seperti hari ini. Apakah yang terjadi padanya?
Andin adalah sahabatku sejak SD, beberapa hari yang lalu dia mengikuti Olimpiade Sains Nasional. Setelah pulang dari mengikuti olimpiade, Andin pernah bercerita bahwa ia mengenal sesorang pria bernama Deny Saputra Haryunda, dia peserta olimpiade yang berasal dari provinsi Sumatera Barat. Ketika mengikuti olimpiade mereka sering bersama, tidak heran jika Andin, sahabatku, memiliki perasaan khusus padanya. Andin beberapa kali melihat Deny yang tersipu malu memandangnya. Akhirnya ia pun tergoda untuk mengartikan senyum Deny sebagai senyuman yang lain. Tetapi kebersamaan mereka harus berakhir ketika seluruh rangkaian acara pada perhelatan Olimpiade Sains Nasional berakhir. Deny harus pulang ke
“Kemarin aku mendapatkan sms ini”, Cerita Andin dengan sedikit malu dan takut.
Aku membaca sms Deny yang disodorkan padaku, aku mulai membacanya dengan seksama sambil ku curi pandanganku pada Andin yang duduk di sampingku. “Memangnya ada apa? Bukankah kamu hanya diminta untuk menjawab iya atau tidak.” Kataku untuk menenangkan hatinya.
Aku lihat Andin semakin bingung, nafasnya terengah-engah dan tangannya yang menggengam semakin kuat menggenggam tanganku.
“ Tika, apa yang harus ku lakukan? Hal ini baru pertama kali terjadi dalam hidupku.” Jawab Andin kebingungan
“ Apa yang ada dihatimu, itulah jawabannya?”
“ Itulah yang membuatku bingung.” Jawab Andin
“ Lantas?”
“Aku ingin sekali mengatakan iya, tetapi aku takut mengecewakan kedua orang tuaku.”
Apa yang harus aku lakukan sekarang, air mata Andin mulai menetes. Aku tidak sanggup melihatnya gamang seperti ini. Aku memandangnya dan memeluknya agar dia sedikit lebih tenang. Di dalam pelukanku ia semakin dalam bersedih.
“ Tenangkanlah dulu hatimu sebelum kau memutuskan sesuatu!”
Aku biarkan Andin menagis di pelukanku selama beberapa lama hingga ia mulai merasa lebih baik. Tetapi setelah itu, ia kemudian berlari pulang tanpa menjelaskan bagaimana cara terbaik menyelesaikan masalahnya ini.
Malam harinya, Andin mengirimiku sebuah pesan singkat. Ia meminta maaf karena telah meninggalkanku tadi siang. Ia juga bercerita bahwa ia telah menerima cinta Deny dan mulai sore tadi mereka resmi berpacaran. Hatiku mulai tenang, sahabatku telah menemukan kembali kecerian yang selama ini ia miliki. Aku kemudian membalas pesannya sambil memberikan ucapan selamat. Tetapi ia kembali membuatku cemas, Andin menelponku sambil menangis. Ia mengatakan bahwa ia terpaksa menerima cinta Deny tanpa memberitahukan hal tersebut pada kedua orang tua dan kakak-kakaknya. Mereka sepakat untuk menjalin cinta secara diam-diam, ternyata Deny juga belum berani menceritakan masalahnya itu pada kedua orang tuanya.
Hari-hari berlalu, Andin dan Deny masih menjalin hubungan
“Kamu sudah siap mengatakannya hari ini?”
“Bantu aku ya! Tadi Deny juga telah memberiku semangat, ia mengatakan bahwa kedua orang tuanya merestui hubungan kita. Sekarang tinggal orang tuaku, jika mereka juga merestui aku akan sangat berbahagia.”
“Aku percaya kamu bisa melakukannya. Semangat!”
Kami begitu terkejut, kedua orang tua Andin menolak merestui hubungan Andin dan Deny bahkan kedua orang tua Andin meminta Andin untuk segera memutuskan hubungan
“ Tika, tolong bantu kami, sekarang apakah yang harus kami lakukan untuk membuat kedua orang tua Andin menyetujui hubungan ini. Kami merasa sangat berat, jika hubungan ini harus diakhiri di sini.”
Aku dibuat larut dalam kebingungan kedua sejoli yang menjalin hubungan jarak jauh antara Jogyakarta dan Padang, Long distance, istilah yang berasal dari bahasa orang yang sering kami gunakan untuk menunjukkan eksistensinya. Ternyata Andin telah menceritakan bahwa aku juga dulu mengalami kisah
Keesokan hari setelah pulang sekolah, aku memutuskan untuk mengunjungi rumah Andin, padahal hari ini Andin ada kursus. Ketika aku sampai di depan rumahnya, ayah Andin, Om Syari, keheranan, ia tahu bahwa hari ini Andin ada kursus tetapi aku malah datang ke rumahnya. Ia menyuruhku masuk ke dalam rumah sambil menanyakan maksud kedatanganku ke rumah mereka. Aku mengatakan maksud kedatanganku yaitu untuk menjelaskan pada mereka tentang hubungan Andin dan Deny, tetapi aneh tidak seperti yang ditunjukkan kemarin, ekspresi kedua orang tua Andin tampak sumringah. Mereka memaklumi jika Andin kini telah memiliki seorang kekasih, mereka tahu anak bungsu mereka itu telah beranjak dewasa dan jatuh cinta adalah sesuatu hal yang wajar pada masa-masa itu bahkan mereka bisa menebak dengan sangat tepat semua penjelasan yang akan aku jelaskan pada mereka sebelum aku menayakannya. Kedua orang tua Andin terpaksa berpura-pura tidak merestui sebab mereka ingin menghilangkan sifat manja anak kesayangan mereka agar ketika Andin dikuliahkan
“Tika, apa yang kamu lakukan? Cepat selesaikan tugas menulis cerpenmu, kamu selalu saja melamun pada jam pelajaran saya. Kemudian terjemahkan cerpenmu itu ke dalam bahasa Perancis!” Perintah Kak Kasta, tentor bahasa Perancis di tempat kursusku dan Andin yang terkenal galak, sadis, killer, dan sebagainyalah yang pasti dia sangat ditakuti oleh semua siswa kursus ditempat ini.
“ Iya kak!”
Ya begitulah, kami selalu disiksa oleh kak Kasta. Bagaimana kami tidak melamum jika cara mengajarnya membuat kami ketakutan dan membosankan?^_^
Maros, 18 Agustus 2008
Cesilia Lita Kusuma Bella


1 Komentar:
Pada 23 Januari 2009 pukul 17.25 ,
AriaSeta MahesaDjenar mengatakan...
Ces,
Disiksa oleh kasta rasanya hanya guyonan di zaman sekarang. Tapi bagi orang yang sungguh mengalaminya, itu sama sekali tidak lucu dan sangat menyakitkan.
Saya juga sering bentrok dengan orang tua karena kasta. JIka sampai sekarang masih belum nikah, salah satu alasannya karena masih belum tega untuk menyakiti hati orang tua.
Penggolongan orang menurut status kelahiran memang salah satu kedunguan kronis.
Sayangnya, kita mau tak mau ikut keselek (tersedak) karena kehidupan dan relasi memaksa kita bertahan dalam kedunguan itu.
Btw,
anak dari maros ko, kah?
Masih ada ji itu penjual roti yang di pinggir jalan? Lama sekali jak, sa ndak makan di situ!!!
Biasanya kalau mau ke TATOR atau pas mau ka jalan ke KENDARI, sa borong itu roti.
Sekarang?
Tinggal rindunya ji sama itu roti yang tersisa. Sedihnya deee!
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda